EKONOMI MENINGKAT, ANGKA KEMISKINAN TETAP MENINGKAT ???
Secara de jure bangsa kita sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus
1945, tetapi secara de facto bangsa kita masih dijajah oleh bangsa asing dan
juga oleh bangsa sendiri, potongan lirik lagu “yang kaya makin kaya dan yang
miskin makin miskin” seolah sudah menjadi potret nyata bangsa kita. Pertumbuhan
ekonomi memang ada tetapi angka kemiskinan tetap saja tinggi. Berbicara tentang
tingkat perekonomian kata Dr. Daharnis, M.Pd, Kons Dosen Pascasarjana UNP
disela perkuliahan Statistik “laporan perekonomian memang sampai kepada
presiden kita itu sudah meningkat, karena perhitungan dari statistika
menggunakan metode mean, atau rata-rata, segingga pendapatan satu orang kaya
dengan nominal tinggi bisa menutupi nilai kemiskinan dari ribuan bahkan jutaan
warga miskin dipelosok negeri, ya jelas tingkat ekonomi kita tetap stabil dan
menengah ke atas” tapi yang namanya angka kemiskinan masih tetap banyak secara
realita. Hal ini tentu saja tidak akan terjadi jika kekayaan alamnya dikelola
secara adil dan transparan.
Dominasi yang sangat besar perusahaan-perushaan asing atau
kekayaan alam kita menjadi bukti lemahnya bargaining
position bangsa kita di dunia international. 74% pengelolaan minyak bumi
kita dikuasai asing yang membuktikan tidak adanya kedaulatan energi dinegeri ini.
Berapa banyak SPBU PETRONAS bertebaran di Jakarta sementara tidak ada satupun
SPBU PERTAMINA berhasil ekspansi ke Malaysia. Janganlah muluk-muluk kita ingin
bersaing dengan Amerika, inggris atau Francis, karena dengan Malaysia saja kita
kalah telak dalam hal pentaan ekonomi negara. Berpuluh-puluh ton emas kita
dikeruk oleh PT Free Port dan Newmont tiap hari menjadikan kekayaan alam kita
makin habis disedot oleh bangsa asing, kedaulatan enrgi seperti mimpi yang tak
kunjung terealisasi, bangsa kita benar-benar tidak berdaulat atas negerinya
sendiri.
Invasi bangsa asing untuk menguasai sumber-sumber kekayaan alam
kita tidak bisa dicegah, justru seolah takluk kepada bangsa asing lewat
perjanjian dan perundang-undangan. Entah hali ituk dilandasi ketakutan akan
rezim pemerintahnya dijatuhkan lewat pemilu atau takut jika dijatuhkan lewat
pesawat militer seperti yang terjadi di Palestina, Irak, Iran, dan Libya, yang
jelas bangsa kita sudah tak berdaulat lagi. Kalau dahulu bangsa kita dijajah
secara fisik, hari ini bangsa kita masih dijajah secara non fisik yang tidak
semua orang bisa menyadarinya.
Kondisi seperti ini harus dipahami oleh seluruh bangsa kita,
terutama generasi muda, dan para mahasiswanya sebagai agent of change. Kita harus bergerak bersama dengan kesadaran
tinggi bahwa bangsa kita belum sepenuhnya merdeka, kemerdekaan itu harus kita
raih secara diplomasi dan penguatan eksistensi.
Tugas ini baru akan dilaksanakan jika pemerintah kita mempunyai
keinginan visi yang kuat dalam membangun dan menjaga harga diri bangsa. Keberpihakan
pemerintah atas ekonomi raknyat, peningkatan kemampuan analisa inteligen dan
kemampuan tempu TNI menjadi hal yang wajib dilakukan jika bangsa kita ingin
berdaulat atas kejayaan alam. Para aktivis mahasiswa harus terus menerus
belajar dan meng-update kemampuan diri dalam pemahaman geopolitik internasional
yang pada suatu saat akan menggantikan para pemimpin negeri yang sudah uzur
dengan gagasan dan strategi perjuangan yang lebih fresh dan lebih soilid lagi.
Saya termasuk orang yang berfikiran bahwa dalam perjuangan
membangun bangsa, akan lebih efektif jika para mahasiswa ikut masuk ke dalam
sistem politik bangsa dibandingkan mereka yang hanya berada di luar sistem,
meskipun demonstrasi jalanan tetap dibutuhkan sebagai sarana kontrol dalam
isu-isu tertentu, jika para mahasiswa yang biasanya menyalurkan aspirasi lewat
turun aksi ke jalana, kemudia mereka
masuk ke dalam system legislasi ataupun eksekutif yang idealis, maka mereka
akan terlibat langsung dalam pengambilan kebijakan. namun yang menjadi problem
klasik saat ini, mahasiswa itu sendiri sulit untuk menavigasikan dirinya ke
dalam sistem yang sebenarnya semua mampu, jangankan membaur diri dengan geopolitik
negeri, baground organisasi dan jati diri mahasiswa yang sejati hari ini mulai
ditinggal pergi. (tetap menjadi PR)
No comments:
Post a Comment